Kamis, 02 Juli 2015

PABRIK GULA TASIK MADU

MEGAHNYA PABRIK GULA TASIK MADU

       Memasuki bulan Mei suasana Jalan Raya Solo – Sragen nampak berbeda dari biasanya. Pemandangan truk pengangkut tebu yang mondar mandir dijalanan mulai meramaikan jalan nasional penghubung tiga kabupaten tersebut. Ini adalah sebuah penanda bahwa musim giling tebu telah tiba dan Pabrik Gula Tasik Madu mulai bangun dari tidurnya untuk bergeliat memproduksi gula kembali. Kesempatan ini merupakan suatu momen langka yang hadir setahun sekali. Hal ini pun tidak saya lewatkan untuk menengok lebih dekat aktivitas giling di Pabrik Gula Tasik Madu yang berada di Kabupaten Karanganyar tersebut.
              Berbicara mengenai sejarah, pendirian Pabrik Gula Tasik Madu di prakarsai oleh bangsawan pribumi yaitu KGPAA Mangkunegara IV yang memimpin Kraton Mangkunegaran kala itu. Pendirian pabrik gula ini dilakukan pada tahun 1871 atau 10 tahun berselang setelah pendirian pabrik gula Colomadu yang juga milik KGPAA Mangkunegara IV. Kemajuan industri gula dimasa itu memang membuat Mangkunegara IV kepincut untuk beriventasi di bidang industri gula.
Dahulu lokasi tempat berdirinya Pabrik Gula Tasik Madu bernama Desa Sondokoro. Namun saat Mangkunegara IV hendak mendirikan pabrik gula di area tersebut, nama Sondokoro di ganti dengan nama Tasik Madu yang berarti danau madu. Nama tersebut mungkin adalah sebuah pengharapan layaknya nama pada Pabrik Gula Colomadu yang berarti gunung madu yang diharapkan mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyat sekitarnya.
Pabrik Gula Tasik Madu sendiri berdiri diatas lahan seluas 28,364 hektar milik Kraton Mangkunegaran. Seiring berjalannya waktu, pengelolaan pabrik kini dilakukan oleh pemerintah melalui PTPN IX. Usia bangunan pabrik gula yang sudah tua serta banyaknya alat-alat giling yang berangka lawas membuat pemerintah menjadikan pabrik gula ini sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang harus dilindungi dan dilestarikan.

PG Tasik Madu Tahun 1920
Sumber: kitlv.nl

Bangunan Utama PG Tasik Madu Tahun 1926
Sumber: kitlv.nl

Alat Giling PG Tasik Madu Tahun 1923
sumber: kitlv.nl

Halaman Belakang PG Tasik Madu Tahun 1923
Sumber: kitlv.nl


Lokomotif Penarik Lori Tebu Milik PG Tasik Madu Tahun 1925
Sumber: kitlv.nl


Lori Pengangkut Tebu dan Keluarga Karyawan PG Tasik Madu Tahun 1925
Sumber: kitlv.nl

7 Juni 2015 bertepatan dengan hari Minggu saya berencana untuk blusukan ke Pabrik Gula Tasik Madu yang berada di Kabupaten Karanganyar. Jarak antara PG Tasik Madu dengan rumah saya yang berada di Kabupaten Sragen hanya berkisar 20 kilometer atau 30 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Tepat pukul delapan pagi saya berangkat dari rumah menuju Tasik Madu. 
            Kurang lebih 30 menit perjalanan menggunakan motor, akhirnya saya mulai memasuki daerah Kemiri, sebuah wilayah yang berada di sebelah utara Tasik Madu. Di Kemiri terdapat sebuah stasiun kecil bernama Stasiun Kemiri yang merupakan tujuan blusukan pertama saya. Saya memilih Stasiun Kemiri sebagai titik awal blusukan saya karena pada zaman dahulu stasiun tersebut terhubung dengan PG Tasik Madu untuk sarana angkutan tetes tebu dan batu kapur (gamping) sebagai salah satu bahan pendukung industri gula.
            Tidaklah sulit menemukan Stasiun Kemiri. Stasiun ini berada di dekat JPL Kemiri kurang lebih 50 meter kearah barat. Tiba di Stasiun  Kemiri suasana sepi menyambut kedatangan saya. Hal ini dikarenakan stasiun ini memang sudah tidak melayani jadwal perjalanan kereta reguler. Hanya beberapa petugas stasiun saja yang nampak sedang berdinas mengatur lalu lintas kereta yang melintasi jalur tersebut.
            Diarea stasiun saya mencoba mencari jejak-jejak jalur decauville yang dulu menghubungkan antara Stasiun Kemiri dengan PG Tasik Madu. Pencarian saya lakukan di area gudang stasiun yang berada di sebelah selatan bangunan Stasiun Kemiri. Diarea tersebut saya sudah tidak bisa menemukan jejak-jejak yang bisa dijadikan petunjuk. Hanya bekas beberapa roda kereta api saja yang tergeletak di samping bangunan gudang. Bangunan gudang stasiun sendiri sudah nampak tidak terawat dan terkesan hampir rubuh.
            Jika dilihat dari kondisi sekitar gudang stasiun yang saya amati, menurut hipotesis saya dulu jalur decauville penghubung dengan PG Tasik Madu berpangkal di bangunan gudang stasiun tersebut.  Hal ini saya asumsikan karena saya menjumpai gundukan tanah yang berada diseberang gudang tegak lurus menuju kearah PG Tasik Madu yang menurut saya dulu adalah bekas jalur lori milik PG Tasik Madu.

Bangunan Gudang Stasiun Kemiri

Stasiun Kemiri
            Berhubung tidak menjumpai petunjuk yang berarti, perjalanan pun saya lanjutkan menju PG Tasik Madu. Perjalanan saya lakukan dengan pelan-pelan sembari mengamati sisi kanan kiri jalan dengan harapan bisa menemukan petunjuk sisa decauville menuju PG Tasik Madu. Hampir mendekati lokasi PG Tasik Madu saya tetap tidak menemukan bekas jejak jalur decauville milik PG Tasik Madu yang mengarah ke Stasiun Kemiri. Saya menjadi teringat akan sebuah artikel yang pernah saya baca yang menyatakan bahwa jalur milik PG Tasik Madu menuju Stasiun Kemiri banyak yang hilang diambil oleh masyarakat dan beberapa telah dicabut oleh pihak pabrik. Mungkin alasan itulah saya sudah tidak menjumpai bekas-bekas jalur tersebut sama sekali.
            Tiba area PG Tasik Madu tujuan pertama saya adalah area belakang pabrik tempat bongkar muat tebu dari truk ke lori. Menurut cerita, PG Tasik Madu sampai saat ini masih menggunakan loko uap untuk menarik lori tebu ke lokasi penggilingannya. Saya pun penasaran untuk membuktikannya. Tiba diarea belakang pabrik, saya di sambut dengan sebuah monumen lokomotif uap milik PG Tasik Madu yang sudah tidak terpakai berdiri di pintu masuk sebelah barat pabrik. Akan tetapi sayang monumen tersebut tidak terawat dan terkesan kumuh.

Dinding Pagar PG Tasik Madu Sebelah Utara

Monumen Lokomotif di Sisi Barat PG Tasik Madu
            Beberapa tahun yang lalu aktivitas bongkar muat tebu di PG Tasik Madu sebenarnya dilakukan di area sisi barat pabrik. Hal ini bisa dilihat dari bekas peralatan bongkar muat yang masih bisa kita saksikan dan jalur lori menuju ke dalam pabrik dari area sisi barat. Mungkin karena alasan efisiensi, aktivitas bongkar muat kini dipindahkan di belakang pabrik. Masuk ke area pabrik melalui pintu barat saya tidak menduga kalau ternyata disana terdapat perkampungan warga yang terletak persis dibelakang pabrik. Disana saya menjumpai banyak anak-anak yang melihat proses bongkar muat tebu sembari mencari batang tebu yang yang terjatuh dari lori untuk dikumpulkan dan dibawa pulang.
            Disana saya sempat bertanya pada beberapa anak apakah benar disana masih ada lokomotif uap yang di gunakan untuk menarik lori. Anak-anak tersebut pun mengatakan memang benar masih ada lokomotif uap yang digunakan untuk menarik lori tebu, bahkan rombongan anak-anak tersebut juga sedang menanti kedatangan lokomotif uap tersebut.
            Tak selang berapa lama, suara lengkingan khas lokomotif uap pun mengusik pendengaran saya. Dari kejauhan tampak sebuah lokomotif uap dengan ukuran yang lumayan besar menarik lori tebu menuju arah saya. Sayapun tidak melewatkan momen ini untuk mengabadikannya. Sungguh pemandangan yang sangat langka yang sudah jarang bisa saya jumpai. Meskipun lokomotif tersebut sudah tidak digunakan untuk menarik lori dari ladang tebu ke pabrik, namun setidaknya saya masih bisa menyaksikan sendiri bagaimana kerennya manuver lokomotif uap saat menarik rangkaian lori tebu. 
            Pabrik Gula Tasik Madu masih menggunakan satu lokomotif uap yang digunakan untuk menarik rangkaian lori tebu dari lokasi bongkar muat menuju tempat giling. Selain menggunakan lokomotif uap, rangkaian lori tebu juga ditarik menggunakan traktor untuk membantu proses langsir. Sebenarnya PG Tasik Madu masih memiliki beberapa lokomotif uap yang lain, akan tetapi lokomotif tersebut saat ini dimanfaatkan untuk menarik kereta wisata di Agro Wisata Sondokoro yang berada di kompleks Pabrik Gula Tasik Madu.

Bekas Jalur Lori dari Sisi Barat Pabrik Menuju Kedalam Pabrik

Bongkar Muat Tebu di PG Tasik Madu


Rangkaian Lori Pengangkut Tebu dan Lokomotif Uap Penarik Lori Tebu


Lokomotif Uap Bermanuver Menarik Rangkaian Lori Tebu

Antrean Truk Menanti Proses Bongkar Muat Tebu

            Puas menyaksikan manuver lokomotif uap menarik lori tebu, sayapun melanjutkan perjalanan menuju arah timur pabrik. Disana terdapat bekas jalur lori yang menuju ke ladang disebelah timur. Sayapun mengikuti bekas jalur tersebut. Dibeberapa titik saya masih bisa menjumpai bekas jalur lori yang tertutup tanah. Kondisinya memang sudah tidak utuh karena sudah lama tidak digunakan.  Seiring dengan berjalannya waktu dan alasan efisiensi, PG Tasik Madu memang sudah tidak menggunakan lori untuk mengangkut tebu dari ladang yang ada di kawasan sekitar pabrik. Sekarang aktivitas angkutan tebu dilakukan dengan menggunakan truk karena dirasa lebih efektif dan efisien.
            Disisi timur pabrik, saya juga menjumpai sebuah komplek perumahan milik Pabrik Gula Tasik Madu. Berbeda dengan komleks perumahan yang berada di sisi timur yang terkesan megah dan memiliki ukuran yang besar, kompleks bangunan disisi timur ini cenderung memiliki ukuran yang kecil dan sederhana. Mungkin perumahan tersebut dahulunya digunakan untuk karyawan pabrik yang tidak memiliki jabatan yang terlalu tinggi.

Jalur Lori Dibelakang Pabrik Menuju Perkebunan di Sisi Timur

Bekas Jalur Lori Menuju Ladang Tebu di Sisi Timur

PG Tasik Madu dari Sisi Timur

Salah Satu Rumah di Kompleks Sisi Timur Milik PG Tasik Madu

            Dari sisi timur pabrik, perjalanan saya lanjutkan menuju ke sisi selatan. Disisi selatan saya kembali menemukan bekas jalur lori yang telah tertutup tanah dan di beberapa titik tertutup bangunan warung semi permanen milik masyarakat. Jalur lori tersebut tepat berada disamping perkebunan tebu dan jalan raya. Saya pernah mendapatkan informasi bahwa dulu jalur disisi selatan ini merupakan jalur menuju perkebunan tebu yang ada di wilayah Matesih. Keberadaan jalur menuju Matesih saat ini sudah tidak ada karena telah cabut oleh pihak pabrik saat di non aktifkan.  Diarea tersebut saya juga menjumpai sebuah bekas jembatan lori. Kondisinya sudah tidak terawat. Kerangka jembatan serta rel besinya pun sudah raib. Yang tersisa hanyalah pondasi penyangga jembatan.

Bekas Jalur di Sisi Selatan Pabrik Menuju Matesih


Bekas Jembatan Lori di Sisi Selatan Pabrik

Blusukan saya di sisi selatan pabrik segera saya akhiri untuk mengejar waktu yang sudah mulai beranjak siang. Blusukan pun saya lanjutkan ke dalam area pabrik yang juga merupakan area Agro Wisata Sondokoro milik PG Tasik Madu. Kedatangan saya langsung disuguhi dengan suara deru mesin giling yang cukup memekakan telinga. Asap hitam yang membumbung tinggi pun menandakan mesin pabrik sedang bekerja keras menghasilkan tebu kualitas terbaik.
             Tujuan saya yang pertama adalah bangunan utama PG Tasik Madu. Bangunannya sangat indah dan megah dengan arsitektur khas Belanda. Didepan bangunan pabrik terdapat sebuah lokomotif yang sudah tidak utuh lagi yang dijadikan sebagai monumen. Disampinnya tertulis bahwa monumen tersebut didirikan untuk mengenang lokomotif pertama milik PG Tasik Madu yang mulai digunakan pada tahun 1902. Sayang sekali saya tidak bisa memasuki bangunan pabrik karena area tersebut memang area terbatas yang hanya boleh dimasuki oleh karyawan pabrik saja.

Monumen Loko PG Tasik Madu

Bangunan Utama PG Tasik Madu

            Tak jauh dari bangunan pabrik, terdapat sebuah museum mini yang bangunannya memanfaatkan bangunan bekas stasiun pengisian bahan bakar milik PG Tasik Madu. Di sana terdapat beberapa benda langka seperti Gerbong dan Bendi yang dulunya digunakan oleh KGPAA Mangkunegara IV. Saya pun tak segan untuk menelisik lebih jauh benda-benda langka tersebut.
            Salah satu benda yang menarik perhatian saya adalah Kremon (Gerbong) milik mangkunegara IV. Gerbong tersebut dahulu digunakan untuk mengunjungi Pabrik Gula Tasik Madu dari Keraton Mangkunegara di Surakarta atau Solo. Gerbong tersebut dahulu mulai digunakan pada tahun 1875. Bentuk dan interior dari gerbong tersebut bisa dikatakan ekslusif, mungkin karena digunakan oleh raja dan petinggi keraton.
            Disamping Kremon, juga terdapat sebuah bendi tua peninggalan Mangkunegara IV.  Bendi tersebut dahulu oleh Mangkunegara IV digunakan untuk mengunjungi kebun tebu milik PG Tasik Madu. Selain itu disana juga terdapat sebuah lori tebu bernama Lori Bader yang dibuat pada tahun 1880 yang dipercaya mampu membantu kekuatan lokomotif. Secara keseluruhan kondisi benda-benda tersebut masih terawat dengan baik.


Kremon (Gerbong) Milik KGPAA Mangkunegara IV

Bendi Peninggalan KGPAA Mangkunegara IV

Lori Bader

Beranjak dari museum mini di halaman pabrik, saya kemudian masuk area Agro Wisata Sondokoro. Untuk memasuki area wisata tersebut, pengunjung hanya dikenakan tarif retribusi sebesar Rp 5.000,-. Tujuan saya kali ini adalah melihat koleksi lokomotif uap milik PG Tasik Madu yang sudah dipensiunkan dan kini dijadikan monumen di area wisata tersebut.
            Cukup banyak ternyata lokomotif yang dijadikan monumen diarea tersebut. Hampir semua lokomotif dalam kondisi terawat dengan baik. Yang paling menarik perhatian saya adalah lokomotif yang bernama Loko Don. Loko tersebut memiliki bentuk persis seperti Loko Simbah yang ada di PG Gondang Baru Klaten yang merupakan lokomotif tertua disana. Pada masanya, Loko Don digunakan untuk menarik Kremon milik Mangkunegara IV saat berkunjung ke PG Tasik Madu. Nama Don sendiri sebenarnya diberikan oleh masyarakat pada waktu itu karena lokomotif tersebut mengeluarkan bunyi “don” saat berjalan.

Lokomotif TM VII

Monument Lokomotif di Sisi Selatan

Loko Don
Monumen Lokomotif di Pintu Masuk Agro Wisata Sondokoro

Agro Wisata Sondokoro memiliki area yang cukup luas. Disana juga terdapat sebuah monument yang terbuat dari bekas mesin giling milik PG Tasik Madu. Disalah satu sudut Agro Wisata Sondokoro terdapat sebuah mini teater yang memutar film pendek mengenai proses produksi gula. Sebenarnya saat itu saya sempat berniat untuk melihat film pendek tersebut, akan tetapi sayang film hanya diputar jika pengunjung minimal dua orang, sedangkan pada waktu itu saya datang sendirian dan tidak ada pengunjung lain yang berminat untuk melihat film pendek tersebut. Sepinya penunjung mungkin dikarenakan promosi yang kurang serta tampilan gedung teater yang kurang menarik sehingga pengunjung kurang tertarik untuk mampir ke mini teater tersebut.
            Wahana yang menjadi favorit bagi pengunjung dan merupakan ikon dari Agro Wisata Sondokoro adalah tour keliling area pabrik dengan menggunakan kereta wisata. Disana terdapat tiga rangkaian kereta wisata, dua kereta uap dan satu kereta diesel. Sayapun tidak ketinggalan untuk menjajal salah satu lokomotif uap tersebut. Hanya dengan membayar Rp 9.000,- saya sudah mendapatkan satu tiket untuk keliling pabrik dengan menaiki kereta wisata uap.
            Kehadiran kereta wisata di Agro Wisata Sondokoro selain untuk menarik pengunjung menurut saya merupakan sebuah upaya untuk merawat dan melestarikan lokomotif uap yang ada di sana. Pengunjung diajak untuk mengenal lebih jauh mengenai lokomotif uap yang dulu digunakan untuk menarik kereta lori dari ladang ke pabrik. Hal ini juga sesuai dengan  konsep Agro Wisata Sondokoro yang menjadi arena edukasi bagi masyarakat.
            Rute tour kereta wisata melintasi area pabrik seperti: gudang pupuk, gudang penyimpanan gula, area bongkar muat tebu, kolam pengolahan limbah, stasiun remise dan lain sebagainya mampu memberikan pengetahuan dan wawasan tersendiri bagi pengunjung untuk mengenal lebih jauh aktivitas-aktivitas yang ada di dalam pabrik gula. Dalam satu perjalanan kereta wisata, pengunjung akan diajak berkeliling area pabrik selama kurang lebih 20 menit. Sungguh pengalaman yang tidak bisa didapat di tempat lain.

Kereta Wisata Spoor Tebu

Kereta Wisata Spoor Gula

Tour Kereta Wisata

Lokomotif Uap Wisata

Kereta Wisata Menyusuri Kompleks PG Tasik Madu

Puas mengelilingi area Agro Wisata Sondokoro, saya menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak disebuah bangunan loji yang ada di halaman pabrik. Loji tersebut memiliki bangunan yang sangat indah. Menurut saya bangunan tersebut dahulu merupakan tempat tinggal kepala administratur Pabrik Gula Tasik Madu. Dibagian depan bangunan juga terdapat sebuah air mancur yang menambah keindahan bangunan loji.

Bangunan Loji di Depan PG Tasik Madu

            Hari semakin siang, setelah puas beristirahat saya pun beranjak pulang meninggalkan PG Tasik Madu. Perjalanan pulang kali ini saya rencanakan melewati jalur yang berbeda yakni melewati jalan disebelah utara PG Tasik Madu. Saat melewati jalur tersebut saya menemukan jejak bekas jalur lori milik PG Tasik Madu. Besi-besi rel dibeberapa titik masih nampak terlihat. Bahkan saya juga menemukan sebuah bekas jembatan lori yang kondisinya bisa dikatakan masih utuh. Jika dibandingkan dengan jembatan yang ada di sisi selatan yang saya jumpai saat blusukan di area selatan pabrik, jembatan di sisi utara ini masih menyisakan besi penyangga jembatan yang lengkap. Akan tetapi sayang, kondisi jembatan kini telah berkarat dan tertutup oleh semak belukar.


Bekas Jembatan Lori di Sisi Utara Pabrik

            Akhirnya perjalanan saya tiba juga di Jalan Raya Solo-Sragen, ini berarti selesai sudah perjalanan blusukan saya di PG Tasik Madu Karanganyar.  Mangkunegara IV adalah sosok pemimpin besar yang tidak saja memikirkan kepentingan kaum bangsawan dan golongan tertentu saja, tetapi juga memikirkan kesejahteraan rakyatnya dengan mendirikan sebuah pabrik yang diharapkan bisa menghidupi dan mensejahterakan rakyatnya. Semoga peninggalan besar dan berharga ini dapat terus lestari sehingga generasi mendatang tetap akan mengenal siapa itu KGPAA Mangkunegara IV.

Peta PG Tasik Madu
sumber: kitlv.nl


video


video


video


video



































Tidak ada komentar:

Posting Komentar