Jumat, 15 Mei 2015

SEJARAH PABRIK GULA


            Siapa yang tidak kenal dengan gula. Serbuk putih manis yang sering digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai pelengkap dalam membuat minuman teh atau kopi ini ternyata memiliki sejarah yang panjang. Gula berasal dari tanaman tebu yang notabene bukan tanaman asli Indonesia. Jika dirunut dari sejarahnya, tanaman tebu mulai masuk di Indonesia dibawa oleh saudagar dari India dan Arab yang melakukan perdagangan di Indonesia sebelum kedatangan bangsa Belanda. Pada masanya tebu diolah dengan menggunakan cara yang masih primitif untuk menghassilkan gula. Gula pun pada kala itu hanya digunakan untuk konsumsi terbatas, belum diperjual belikan secara luas atau bahkan belum menjadi bahan komoditi perdagangan yang utama.
            Proses pengelolaan tebu kala itu masih menggunakan tenaga manusia dan hewan, dimana tenaga manusia dan hewan dibutuhkan untuk memutar alat penggiling untuk memeras tebu. Proses pengepresan atau penggilingan tebu dengan skala yang agak besar mulai dilakukan pada abad 17 di Batavia yang dilakukan oleh orang Tionghoa. Akan tetapi pada waktu itu teknologi yang digunakanpun juga masih sederhana.
            Seiring dengan kedatangan bangsa Belanda yang menjajah bangsa Indonesia, beberapa wilayah di Indonesiapun dijadikan wilayah perkebunan oleh pemerintah kolonial sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing sebagai sumber pemasukan bagi pemerintah kolonial kala itu. Sebagai contoh perkebunan Karet untuk wilayah Sumatera, perkebunan Pala untuk wilayah Sulawesi, perkebunan Teh, Kopi, Kina, dan Tebu untuk wilayah Jawa. Seiring berjalannya waktu, banyak pemodal-pemodal besar bermunculan yang berdampak pada perkembangan industri perkebunan. Salah satu industri yang mengalami perkembangan yang pesat kala itu adalah Industri gula.

            Perkembangan industri gula dimulai pada tahun 1830, dimana mulai bermunculan pabrik pengolahan tebu yang telah menggunakan mesin import yang belum pernah digunakan sebelumnya. Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah pabrik gula modern pun banyak bermunculan di pulau Jawa. Gula tidak hanya di perdagangkan di dalam negeri, melainkan telah berubah menjadi komoditi eksport yang berharga. Gula menjadi penyumbang penghasilan yang besar bagi pemerintah kolonial kala itu. Bahkan sebelum tahun 1930, hasil eksport dari komoditi gula menyumbang seperempat pendapatan pemerintah Hindia Belanda.  

Pabrik Gula Tjokro Toeloong
Sumber: kitlv.nl

            Pesatnya perkembangan industri gula di Pulau Jawa pada tahun 1930, membuat Pulau Jawa sebagai lumbung gula bagi pemerintah Hindia Belanda. Bahkan pada tahun tersebut Pulau Jawa memiliki 179 pabrik gula dan 16 perusahaan tebu yang mengantar Jawa sebagai penghasil gula terbesar kedua setelah Cuba.
            Setelah usainya Perang Dunia I, pada tahun 1930 diadakan persetujuan “Chad Bourne” yang menyatakan bahwa Jawa harus mengurangi produksi gulanya dari 3 juta ton gula menjadi 1,4 juta ton gula. Dan dari jumlah tersebut hanya 1 juta ton saja yang boleh di eksport. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan pesatnya industri gula di dunia. Akibat Perang Dunia II, ekonomi dunia semakin memburuk karena munculnya krisis moneter diberbagai belahan dunia. Hal ini pun juga berimbas pada perkembangan industri gula di Jawa sehingga banyak pabrik yang terpaksa ditutup.
            Seiring dengan kekalahan bangsa Belanda atas Indonesia banyak pabrik gula yang ditutup atau bahkan dihancurkan sebagai simbol kemenangan bangsa Indonesia atas penjajah. Pabrik gula yang kala itu masih memiliki potensi diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Industri gula di Jawa dari tahun ketahun semakin mengalami penurunan. Infrastruktur yang tua yakni warisan dari pemerintah kolonial serta manajemen industri yang kurang tepat serta tidak adanya peremajaan infrastruktur industri yang laik menjadikan produksi industri gula di Jawa merosot tajam. Bahkan kini banyak pabrik gula yang ditutup karena terus merugi.
            Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Meskipun industri gula di Pulau Jawa sudah tidak semanis dulu lagi, setidaknya Pulau Jawa pernah menjadi salah satu lumbung gula dunia. Sisa kejayaan industri gula pada masa lalu masih bisa kita temui di berbagai wilayah di Pulau Jawa dengan bangunan-bangunannya yang kokoh. Meskipun bangunan itu hanyalah saksi bisu kehebatan industri gula masa lalu, namun sebenarnya bangunan itu ingin mengajak kita untuk meraih kembali masa kejayaan industri gula yang pernah diraihnya.
Dalam blog ini akan membahas mengenai sejarah industri gula yang ada di Karesidenan Surakarta yang pada masa lalu memiliki banyak industri gula. Diharapkan melalui tulisan di blog ini, sejarah akan kejayaan industry gula dimasa lalu bisa kita kenang dan abadikan sebagai motivasi untuk terus berkontribusi bagi Bangsa Indonesia.


link: PABRIK GULA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar